Haram [makanan]

Kesalahan yang terjadi akibat salah mengartikan haram [makanan]:

  1. Sikap hati merendahkan orang lain yang tidak melakukan.
    Sejak kecil sering sekali temen-teman sekampung saya mengejek kamu babi atau kamu makan babi, seakan-akan sangat rendah sekali status saya didepan mereka. Terkadang untuk menghibur diri sering kali saya menganggap  hal itu hanya gurauan anak-anak, tapi tidak jarang timbul dihati kepercayaan bahwa memang itulah yang ada dihati mereka [rekan muslim] dalam melihat orang yang makan makanan yang haram tersebut. Selain itu munculnya perasaan kaum muslim lebih ‘suci’ dibandingkan dengan yang makan makanan haram atau memandang yang lain najis.
  2. Hanya tertuju pada hal-hal fisik.
    Saya memang pernah melihat di TV ada ulama yang berkata bahwa haram itu ada 2, yaitu makanan-nya atau sumber untuk mendapatkan makanan tersebut yang mengakibatkan haram. Maksud dari yang pertama [makanan] udah jelas, sedangkan maksud yang kedua [sumber] adalah meskipun makanan-nya tidak haram tapi kalau cara mendapatkannya tidak benar, maka makanan tersebut tergolong haram. Contoh makanan yang dihasilkan dari korupsi, seharusnya makan tersebut digolongkan haram. Pertanyaannya berapa banyak yang ingat tentang haram point kedua [sumber] ? Seringnya aturan haram ini hanya ditujukan pada fisik makanan saja.

Esensi aturan diatas:

Setiap aturan dibuat saya percaya ada hal positif yang ingin dicapai. Menurut sudut pandang manusia saya, esensi dari aturan haram tersebut adalah ‘kesehatan’. Umumnya makanan yang digolongkan haram adalah makanan-makanan yang tidak sehat. Contoh yang paling sering diargumenkan babi. Babi adalah binatang yang jorok dan ada banyak penyakit yang terkadung dalam daging babi [dalam hal ini argumen-nya menggunakan hal-hal ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan]. Jadi dalam hal kesehatannya adalah benar. Selain itu Haram dari sisi sumber-nya yang tidak benar secara kesehatan juga sejalan yaitu orang yang makan dari hasil korupsi bisa masuk penjara :-).

Berdasarkan pemikiran diatas pasti pihak muslim akan membenarkan diri untuk menyalahkan pihak yang makan makanan haram. Khan itu sehat, khan itu masuk akal, khan itu indah , dst. Tetapi saya ada pemikiran yang sejalan, yaitu berapa sering kita sebagai manusia makan atau melakuan sesuatu yang tidak berguna atau bahkan merusak diri sendiri. Dalam hal ini tentunya merusak yang tidak extreme. Contohnya rokok, jelas-jelas rokok juga membawa penyakit sama seperti daging babi. Tapi kenapa sampai saat ini tidak diharamkan oleh pihak muslim [sejauh ini berlaku untuk orang dewasa saja, krn untuk anak sudah diharamkan]. Kalau mau sejalan aturan ini juga harus berlaku. Selain itu ada banyak sekali makanan yang memang tidak sehat, contohnya penyedap rasa, jelas-jelas itu tidak sehat dan hanya untuk menyenangkan mulut kita. Jadi kalau memang mau menerapkan haram pada makanan fisik benar-benar setiap saat harus mengkaji setiap bentuk makan bukan hanya kandungan tapi juga dasar kesehatannya. Dalam hal ini saya lebih cenderung menyerahkan kepada pihak yang berwenang, dalam hal ini dokter atau ahli gisi untuk mendaftarkan hal-hal ‘haram’ tersebut bukan sebagai najis tapi sebagai sehat atau tidak sehat.

Sudut pandang Kristen [dalam pengertian saya]:

  1. Dalam Alkitab [terutama perjanjian lama atau taurat] tertulis yang artinya ini berlaku juga buat orang kristen.
    Aturan haram di Alkitab tentang makanan juga tertulis, termasuk didalamnya adalah  binatang yang tidak berkukubelah atau tidak memamahbiak contohnya babi dan kelinci, berikutnya bangkai, berikutnya segala binatang yang merayap contohnya tikus dan katak [imamat 11, ulangan 14]. Artinya aturan haram itu sudah ada sejak taurat dan juga berlaku bagi orang kristen, tapi pada perjanjian baru aturan ini dijelaskan lebih detil oleh Yesus tentang arti sesungguhnya.
  2. Dalam perjanjian baru ditambahkan aturan makanan yang harus dihindarkan [saya persepsikan haram].
    Kisah 15:20, Kisah 21:25: makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik.

Dalam perjanjian baru aturan haram [secara fisik atau makanan] menjadi ditiadakan, karena memang aturan haram ini bukanlah tentang makanan fisik tapi mempunyai makna yang lain.

Berikut ini ayat penjelasan haram secara fisik makanan dari binatang yang disebutkan pada taurat, yaitu Mat 15:11

11  “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

dan Kisah 10:9-16

9  Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.
10  Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi.
11  Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah.
12  Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung.
13  Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”
14  Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”
15  Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.”
16  Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.

Berikut ayat penjelasan haram secaran fisik makanan untuk aturan kedua [setelah dipersembahkan kepada berhala] 1 Korintus 8-13:

8  “Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.”
9  Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.
10  Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?
11  Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena “pengetahuan” mu.
12  Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus.
13  Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

Kesimpulan:

Haram maknanya adalah:

  1. Kesehatan
    Binatang yang disebutkan haram adalah makanan yang tidak sehat buat manusia.
  2. Penguasaan diri
    Jangan karena makanan kita membuat orang yang tidak percaya menjadi batu sandungan untuk percaya kepada Tuhan [Yesus]. Pilihlah makanan yang memang mendatangkan berkah buat diri sendiri dan orang lain.

Dengan dasar diatas merupakan penjelasan mengapa orang kristen boleh makan makanan yang ‘haram’. Semoga ini memberi inspirasi dan mengembalikan aturan haram kepada porsi sesungguhnya.

Kategori:haram, kristen, muslim
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.